Rentetan Penolakan RPM Konten Multimedia

JAKARTA – Daftar penolakan terhadap rencana pemerintah untuk mengeluarkan peraturan menteri tentang konten multimedia bertambah lagi. Kali ini pendiri Kaskus, sebuah situs forum terbesar di Indonesia, Andrew Darwis menyatakan kecewa dengan aturan tersebut. Ia berpendapat permen itu akan menghambat pertumbuhan industri konten lokal di Indonesia.

"Kami sedikit kecewa dengan pemerintah, karena di saat internet sedang berkembang pemerintah justru mengeluarkan rancangan peraturan tersebut," kata Andrew disitat dari Okezone, Sabtu (13/2/2010).

Ditambahkan Andrew, seharusnya pemerintah mendukung tumbuhanya industri konten lokal dan bukan mengeluarkan aturan justru bisa mematikan industri. "Ini aneh, seperti tidak ada kerjaan lain saja," tegasnya.

Andrew mengaku, pihaknya keberatan bila setiap tahun harus melaporkan konten kepada Tim Konten Multimedia yang akan dibentuk oleh Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul sembiring.

"Internet itu ada sisi baik dan sisi buruknya, semua diserahkan kepada masing-masing Individual, sebaiknya pemerintah bisa mencari cara lain, seperti memberikan pendidikan internet sejak di bangku sekolah dasar, dan bukan mengawasi atau menyensor konten di dunia maya," kata Andrew.

Dalam rangka penolakan RPM tersebut, Kaskus telah menggalang sejumlah dukungan. "Anggota kami telah membuat thread penolakan dan anggotanya kini sudah mencapai sekira 3000 orang," kata Andrew.

Sementara itu, Enda Nasution seorang blogger ternama, menilai Rancangan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika tentang konten multimedia, sebagai upaya pembatasan kebebasan berekspresi dan kembali ke paradigma lama zaman Orde Baru berkuasa.

“Peraturan Menteri telah mematikan, baik dari sisi penyelenggara maupun pengguna internet. Permen itu bersifat represif dan mengekang dinamika dan kebebasan berpendapat serta berekspresi di Internet,” katanya, disitat dari harian Tempo, edisi Sabtu (13/2).

Menurut anggapan Enda, rancangan itu, memberi kesan seolah-olah Pemerintah melempar tanggung jawab dengan membebankan persoalan yang tengah marak belakangan ini yang dianggap mengundang kejahatan kepada penyelenggara situs maupun pengguna situs itu sendiri.

“Harusnya pemerintah melakukan effort yang lebih komprehensif, melalui pendekatan moral, pendidikan maupun sosialisasi Internet sehat. Lebih baik memperbanyak Internet-user dari pada dibatasi,” lanjut Enda.

Ia juga melihat adanya butir-butir peraturan yang sangat janggal. Misalnya, adanya tim pengawas situs-situs yang terindikasi muatan ‘haram’. Tim Konten Multimedia tersebut bertugas mengawasi permohonan izin bagi pembuat situs, pemberian sanksi bagi yang tidak mentaati peraturan, memberikan laporan tahunan dari penyelenggara kepada Kominfo sampai pencabutan izin.

Tim tersebut akan bertindak sebagai sebuah lembaga sensor Internet dengan kekuatan untuk menentukan apa yang dilarang dan apa yang tidak dilarang di Internet. Selain itu masih banyak definisi yang dinilai terlalu luas dan tidak spesifik dalam Rancangan Peraturan Menteri tersebut, terutama tentang penyelenggara dan keberadaannya.

Peraturan yang menyoal keberadaan penyelenggara dinilai sangat mengancam. Sebagai pemilik dari sebuah situs, ia menolak bila harus terus mengawasi pengguna Internet yang memuat konten-konten yang dianggap melanggar Permen. Ia berpendapat, seharusnya tanggung jawab itu ditujukan kepada penggunanya.

"Intinya saya menolak Permen tersebut diberlakukan di Indonesia." katanya

Sementara pakar teknologi informasi Onno W Purbo dalam pernyataan tertulisnya mengatakan Rancangan Peraturan Menteri secara langsung di arahkan ke wadah, media atau provider situs. Padahal, selama ini konten lebih banyak bersifat blog, diskusi di forum atau tweet.

"Apakah Kaskus.us, WordPress, Blogger, harus bertanggung jawab terhadap semua konten yang ditulis oleh pengguna Internet tersebut?" ujarnya.

Berita Lainnya:

Iklan

Satu Tanggapan

  1. agak lucu memang mendengar para pengguna internet yg menyalahkan media seperti facebook sebagai biang keladi hal negatif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s