Beras Naik, Isu Ganyang China Merebak

Nusa Tenggara Barat sejak dulu dikenal dengan daerah Lumbung Beras, mengingat hasil produksi beras di daerah ini selalu surplus. Namun anehnya, beberapa hari terakhir, di daerah Kecamatan Alas wilayah Kabupaten Sumbawa NTB, harga kebutuhan pokok ini naik drastis. Sebagai akibatnya, beredarlah isu negatif tentang etnis tertentu yang menjadi penyebab kondisi tersebut.

Harga beras memprihatinkan naik mencapai Rp.8000/Kg yang semula dipasaran sebelum kenaikan berkisar Rp.5000/Kg. Situasi ini membuat masyarakat di Kecamatan Alas menjadi tidak berdaya dan menyalahkan pengusaha etnis China sebagai penyebab utama kelabilan harga. Bahkan menurut situs nusatenggaranews.com, “ketidakberdayaan masyarakat menghadapi monopoli pengusaha dari etnis Tionghoa ini menyebabkan isu ganyang China berhembus keras di Alas.”

Menurut situs tersebut, salah seorang warga bernama Siraj menegaskan pengusaha etnis Tionghoa sengaja memanfaatkan situasi ini untuk mendapatkan keuntungan yang sangat besar. "Mereka (etnis China-red) membeli beras dengan harga yang sangat rendah, menimbun dengan jumlah yang banyak dan menjual dengan harga yang sangat tinggi." jelas Siraj.

Sebagai antisipasi Pemerintah Kecamatan Alas mengadakan rapat koordinasi mendadak dengan berbagai unsur diantaranya kadis Kodisperindag, Kasub Bulog Sumbawa, Camat alas dan pengusaha setempat. Hasil kesepakatan salah satunya adalah, menetapkan harga eceran beras tertinggi sebesar Rp. 6200 /kg.

Namun, hasil pertemuan Pemerintah dan Pengusaha ini masih jauh dari harapan masyarakat seperti disuarakan oleh salah seorang warga Alas bernama Wahid. Ia menilai pertemuan tersebut kurang adil mengingat utusan dari warga tidak diikut sertakan. "Dari daftar hadir yang ada ternyata tidak ada perwakilan masyarakat yang menjadi korban dari kebijakan harga selama ini." jelas Wahid. Terkait dengan isu ganyang China yang sudah berhembus keras di Alas, Wahid berharap masyarakat tidak terprovokasi untuk berbuat anarkisme.

Sementara itu, sekitar 200 orang anggota masyarakat kecamatan Alas melakukan aksi damai dipersimpangan terminal Alas pada hari Jum’at (15/10/2010) terkait mahalnya harga beras. Dalam aksinya, mereka membuat 11 pernyataan dan tuntutan tertulis yang berisikan:

PERNYATAAN DAN TUNTUTAN MASYARAKAT ALAS TERKAIT HARGA BERAS

Berdasarkan hasil kesepakatan dari AKSI MASYARAKAT ALAS terkait KENAIKAN HARGA BERAS pada hari Jum’at 15 Januari 2010,kami menuntut :

  1. Pemerintah Daerah proaktif memonitor perkembangan harga kebutuhan pokok khususnya harga Beras.
  2. Dolog selalu melakukan monitoring harga wajar terhadap pengusaha maupun pengecer beras.
  3. Rasio harga beli gabah petani dengan harga jual beras harus proporsional.
  4. Harga gabah petani harus dibeli sesuai harga stándar pemerintah.
  5. Apabila terjadi lonjakan harga yang tidak wajar, pemerintah, dolog segera melakukan operasi pasar guna menstabilkan harga beras.
  6. Melakukan penertiban terhadap pengusaha, baik itu mitra rekanan dolog maupun pengecer beras bila menjual beras yang terlalu jauh antara rasio harga beli dengan harga jual.
  7. Terhadap pengusaha yang nakal, pemerintah mencabut ijin usaha pengusaha tersebut.
  8. Berdasarkan hasil panen gabah hasil petani diwilayah Kecamatan Alas dan sekitarnya, gabah petani dapat dikatakan swasembada bahkan surplus. Karena perlakuan harga jual beras di wilayah tersebut tidak dapat mengunakan asumsi jual seperti daerah lainnya.
  9. Pemerintah untuk dapat melakukan monitoring terhadap distribusi hasil panen yang dijual oleh petani kepada pengusaha, sehingga hasil panen tidak seluruhnya ataupun sebagian didistribusikan atau dijual keluar daerah yang dapat mengakibatkan kurangnya pasokan dan stok beras diwilayah ini.
  10. Membuat kebijakan yang lebih memperhatikan kesejahteraan petani. Selama ini kebijakan pemerintah lebih banyak menguntungkan kepentingan pengusaha daripada petani.
  11. Dalam hal monitoring harga, pemerintah hendaknya melibatkan unsur masyarakat. Karenanya, pemerintah hendaknya dapat membentuk satuan tugas yang bertugas melakukan evaluasi dan monitoring terhadap perkembangan harga kebutuhan pokok khususnya beras.

Demikian tuntutan ini kami buat untuk disepakati bersama.

Alas, 15 Januari 2010.

Atas Nama Wakil Masyarakat

BERITA LAINNYA:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s