Luna Maya Tokoh Pers 2009?

Inilah fenomena menarik dari dunia media di Indonesia. Dua asosiasi besar pekerja media (Persatuan Wartawan dan Aliansi Jurnalis) berada pada posisi berseberangan. Kedua asosiasi media ini saling serang dengan pemicu awal Luna Maya. Persatuan Wartawan berusaha menuntut Luna di pengadilan sementara Aliansi Jurnalis cenderung memihak Luna. Kenapa bisa terjadi?

Menurut inilah.com, cerita dimulai dari Luna Maya yang mau diwawancara oleh pekerja infotainmen. Kemudian ada insiden, anaknya Ariel yang bersama Luna kena senggol kamera. Luna gerah, lalu muncullah makian dalam ruang maya Luna Maya, twitter: Infotainmen lebih rendah dari pelacur.

Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) bereaksi. Infotainmen yang sekarang masuk dalam struktur keorganisasian PWI Jaya, merasa dilecehkan. Dalam kapasitas lembaga, infotainmen melalui PWI Jaya melapor ke polisi.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bereaksi. Apa yang dilakukan PWI Jaya dilawan. AJI membela Luna. Maka, perdebatan pun dimulai. Saling serang di televisi. Masing-masing punya pijakan yang kuat. PWI melihat Luna adalah figur publik, AJI melihat Luna sebagai pribadi yang seharusnya punya ruang private.

Sebagai orang yang juga bekerja di media dengan menjadikan informasi sebagai basis usaha, saya bertanya: yang benar siapa? PWI atau AJI?

Dua-duanya organisasi besar yang menjadi wadah aspirasi ribuan wartawan, pekerja media, jurnalis atau mungkin siapa saja yang memperoleh nafkah dalam kehidupannya dari pekerjaan mencari dan mengekspos informasi.

Realitas inilah (yang sampai sekarang masih saya pakai sebagai pilihan profesional) menunjukkan betapa kehidupan pers di Indonesia terbelah. Sealur dalam beberapa agenda, berbeda dalam beberapa kasus. Ada kepentingan-kepentingan yang tidak bisa diakomodir dalam sebuah lembaga formal.

Wajah pers Indonesia warna-warni. PWI dan AJI, hanya dua diantara sekian banyak asosiasi atau sekumpulan wartawan yang membangun diri dalam berbagai perhimpunan agenda. Masih banyak lagi perhimpunan wartawan dalam kepentingan parsial. Ada Forum Wartawan, Pokja Wartawan, Komunitas Wartawan, atau apalah namanya, yang diakhiri dengan kata Wartawan.

Beda pendapat PWI dan AJI makin menunjukkan pada publik, bahwa wartawan bukan mahluk bersih dari kepentingan dan agenda.

Wartawan punya cara pandang. Wartawan punya basis pijak ideologis dan intelektual. Wartawan punya agenda taktis, strategis atau kepepet. Yang penting lagi, wartawan punya pilihan kepada siapa dia harus berasosiasi.

Nah, sepanjang perjalanan saya yang hampir 14 tahun jadi wartawan, baru kali ini saya melihat PWI dan AJI bertemu dalam sebuah forum perdebatan terbuka (sambil sesekali diwarnai nuansa emosional). Yang satu memihak, yang lain menyerang Luna.

Bagi saya, Luna Maya adalah satu diantara sekian banyak agenda dan tema yang seharusnya terus-menerus diperdebatkan oleh asosiasi-asosiasi wartawan. Di situlah makin teruji dan terasah, betapa asosiasi wartawan makin berharkat. Tidak semua kasus dibela, tidak juga semua kasus dikecam.

Bagaimanapun, pers adalah kekuatan keempat dalam konstruksi bangunan demokrasi. Tanpa membangun diri dalam perdebatan intelektual dan basis pijak ideologis, wartawan hanya kartu keplek (istilah saya untuk menyebut kartu tanda pengenal yang suka digantungkan di leher), yang bisa dipakai siapa saja.

Tentu sangat berbahaya kalau itu terjadi.

Wartawan ibarat pisau bermata dua. Tajam menusuk lawan, berbahaya juga kalau mengenai diri sendiri.

Karena itu, PWI dan AJI, seharusnya terus berdebat untuk mengartikulasikan profesi wartawan dalam dinamika publik dan kepentingan wartawan sebagai pencari nafkah. PWI dan AJI harus terus membangun eksistensi profesi wartawan ini lewat komunikasi terbuka. Sehingga, siapa saja yang bekerja di media informasi, bisa belajar tentang profesionalisme kewartawanan.

Nah, kalau boleh usul siapa tokoh pers 2009 ini, saya pilih Luna Maya saja! (INILAH)

Iklan

2 Tanggapan

  1. bushett … hhahaha…

    menurutku ituu indonesia terlalu berlebihan menanggapi pendapat” di dunia maya …

    bahasa lainnya terlalu “norakk” gituuu …

    padahal dulu masa” nya masih pada mainan social network .. friendster …

    pada nggak terlalu ngurus namanya dunia maya…

    nahh ….

    pas masuk facebook … dan sangat melonjak tinggi sebagai social network terlaris … muncul juga twitter … dsb.

    ehh malah kyk gitu jadi dibikin bagian dari hidup mereka …

    mereka setiap hari kerjanya main itu itu melulu …

    akhirnya ada yang dirasa jahat atau yaa katalainnya melakukan hal yang tidak enak di dalam hobi orang tersebut jadi dia merasa tersinggung berat .. lalu dia coba dehh proses hukum ……

    hadehh

    sampek” aku bingung sendiri mau menjelaskannya … hahaha… šŸ˜€

    mampir” di blog ku yaaaaaaaa …

    thanks šŸ™‚

  2. Slamat tahun Baru, salam kenal,..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s