Mengenang Abdurrahman Wahid Mantan Presiden RI

Masyarakat Indonesia hari ini tengah merasakan duka yang mendalam karena kehilangan tokoh yang menjadi suri tauladan, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Beliau adalah putra Wahid Hasyim, seorang tokoh Nahdlatul Ulama, lahir di Jombang, Jawa Timur, 4 Agustus 1940. Gus Dur menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta sekira pukul 18.45 WIB karena komplikasi penyakit yang dideritanya yakni penyakit jantung, ginjal, dan gula darah

Setelah disemayamkan di rumah duka di Jalan Warung Sila, Gang Munawarroh, Ciganjur, Jakarta semalam, Jenazah Gus Dur diterbangkan ke Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur untuk dimakamkan di pemakaman keluarga. Ribuan masyarakat ikut menyaksikan pemakaman Gus Dur di Jombang siang tadi.

Menurut OKEZONE.COM, pemikiran dan terobosan-terobosan yang dilakukan Gus Dur jarang dimiliki orang lain. Ia terkadang kontroversial, namun beliau adalah tokoh yang sanggup mencairkan kejenuhan berpikir nasional. Gus Dur juga menjadi salah satu contoh kesempurnaan tentang ber-Islam dan ber-Indonesia secara pas. Gus Dur telah menjadi pelopor gerakan yg mengawinkan keislaman dan keindonesiaan secara indah.

Berpulangnya Gus Dur ke haribaan-Nya, berdampak besar pada seluruh warga Nahdlatul Ulama. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengeluarkan larangan bagi warga NU untuk merayakan pesta tahun baru nanti malam. Guna berbelasungkawa warga NU atas wafatnya Gus Dur, warga NU di seluruh Indonesia dihimbau agar tidak ikut hura-hura pesta tahun baru.

Sosok mantan Presiden Keempat Abdurrahman Wahid semasa hidup meninggalkan banyak kenangan di hati semua orang. Beliau adalah Bapak bangsa yang patut menjadi suri tauladan. Meski berasal dari kalangan berada, namun Gus Dur tetap merakyat dan semamgat kebineka tunggal ika-an tetap beliau tunjukkan.

Menurut INILAH.COM, catatan penyakit mendiang Kiai Haji Abdurrahman Wahid dimulai dengan glaukoma 24 tahun silam (1985). Kondisi ini membuat keterbatasan fisik bagi beliau. Berbagai keluhan juga mulai dirasakan, seperti muntah-muntah, mual berkali-kali, dan pusing yang cukup hebat.

Sejak itulah, kemampuan penglihatan Gus Dur menurun drastis. Sejumlah tindakan medis pun dilakukan untuk menyelamatkan penglihatannya, tapi mata kirinya tidak bisa diselamatkan karena urat syarafnya sudah telanjur rusak. Beruntung mata bagian kanan Gus Dur masih bisa diselamatkan. Hanya saja, sejak itu Gus Dur harus menjalani pemeriksaan rutin setiap enam bulan sekali.

Sekitar Februari 1997, kesehatan mantan Presiden Abdurrahman Wahid sempat agak mengkhawatirkan karena lengan kanannya terkena infeksi. Tangan kanan Gus Dur divonis terinfeksi. Tidak jelas terkena gigitan serangga atau luka tusukan lain meski akhirnya membaik.

Pada 2005, Gus Dur sudah harus melakukan cuci darah tiga kali seminggu karena fungsi ginjalnya tidak lagi bekerja sempurna.

Pada Juli 2009, Gus Dur mengalami penyakit alodonia, yaitu sakit dari saraf yang menyebabkan nyeri di seluruh badannya.

Selanjutnya, sejak 25 Desember 2009, Gus Dur menjalani rawat inap di RSCM, Jakarta, setelah sebelumnya menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Jombang karna gula darah Gus Dur turun drastis. Keesokan harinya, pada 26 Desember silam, Gus Dur mengeluh giginya sakit. Namun, Ahad silam, Gus Dur sempat berkunjung ke Kantor PBNU dan kembali lagi ke RSCM. Mantan presiden itu akhirnya wafat Rabu 30/12/2009.

Menurut MERDEKA.COM, Abdurrahman Wahid, Presiden Indonesia ke 4, periode 1999-2001, adalah seorang intelektual yang dikenal sebagai "kyai kontroversial". Beliau menjalani pendidikan tinggi di Mesir dan Irak.

Berikut riwayat hidup Gus Dur

  • Nama: Abdurrahaman Wahid
  • Tempat Tgl. Lahir: Denanyar, Jombang, 4 Agustus 1940
  • Orang Tua: Wahid Hasyim (Ayah), Solechah (Ibu)
  • Istri: Sinta Nuriyah
  • Anak-anak: Alisa Qotrunada, Zanuba Arifah, Anisa Hayatunufus, Inayah Wulandari

Pendidkan:

  • Pesantren Tambak Beras,
  • Jombang (1959-1963) Departemen Studi Islam dan Arab Tingkat Tinggi,
  • Universitas Al-Azhar, Kairo,
  • Mesir (1964-1966) Fakultas Sastra,
  • Universitas Baghdad (1966-1970)

Karir:

  • Pengajar dan Dekan Fakultas Ushuludin,
  • Universitas Hasyim Anshari Ketua Balai Seni Jakarta (1983-1985)
  • Pendiri dan pengasuh pesantren Ciganjur (1984-sekarang)
  • Ketua Umum PBNU (1984-1999)
  • Ketua Forum Demokrasi (1990)
  • Ketua Konferensi Agama dan Perdamaian Sedunia (1994)
  • Anggota MPR (1999)
  • Presiden RI (20 Oktober 1999-24 Juli 2001)
  • Ketua Dewan Syuro PKB
Iklan

Satu Tanggapan

  1. saya bener2 kagum sama gusdur dia sosok yang wajib dijadikan tauladan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s